Cari Artikel di Blog Ini

Kamis, 28 Juni 2018

Stunting

Dulu banget, saya nggak pernah berfikir kalau stunting itu nyata. Menurut saya, yang saat itu masih single fighter alias masih lajang, dengan fenomena banyaknya ortu bekerja dan rata2 berpenghasilan lumayan tentunya mudah aja lah memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Itu dulu sebelum negara api menyerang. Ketika udah ngerasain jadi ibu hamil kemudian jadi ibu menyusui lanjut ke ibu MPASI (eh nggak ada ya? Ya maksudnya ibu yang ngadepin si balita mulai MPASI) baru deh sadar betapa dekatnya momok si stunting ini. Teori golden period lah, seribu hari pertama kehidupan, prinsip gizi seimbang sungguh terdengar bagaikan angin surga. Ideal banget. Prakteknya? Wah jangan ditanya, dari sekian ratus chat yang terekam di akun whatsapp saya mungkin kalau direkap sebagian besar ya isinya keluhan makemak yang galau gemilau ngadepin balitanya melewati badai susah makan, berat badan stagnan, jarum timbangan yang enggan bergerak nganan kalau yang naik anaknya, namun berbanding terbalik kalau yang naik ibunya. Padahal lho sekarang lagi nge-trend ASI eksklusif 6 bulan, MPASI homemade hingga bayi bisa lulus S3 ketika usianya 2 tahun. Ish kalah dah eikeh, umur udah berapa kali lipatnya aja belum mulai S3. Hebat kan bayi zaman sekarang? Lantas kenapa gitu kok sekarang jadi marak pembahasan stunting dimana mana? Tiap ada seminar gizi bahasnya stunting lagi stunting lagi. Sampai widyakarya nasional pangan dan gizi bulan depan itu para ibu dan bapak menteri bakal ngasih pidato soal stunting juga. Nggak cuma menkes, menko kelautan, pertanian dan sosial juga. Ternyata oh ternyata, jawabnya ada di ujung langit. Kita kesana dengan seorang anak. Nah yang nyanyi ketahuan deh umurnya berapa. Ternyata, setelah saya mendapatkan pertanyaan dari beberapa ibu2 yang sedang semangat bikin makanan dari rumah alias home made itu, banyak yang sekedar ikutan komentar sana sini. Ya pokoknya homemade, pokoknya nggak pake gula garam, pokoknya anaknya harus mau makan mbuh rasanya piye dan pokoknya ini itu. Tapi waktu saya tanya "kenapa no gulgar?" Jawabnya "kenapa ya? Ya soalnya katanya gitu". Katanya siapa? Pernah juga ngadepin pertanyaan bayi usia 8 bulan nggak mau buka mulut kalau dimasakin mpasi. Pas ditanya apa menunya? Nasi sama ati rebus dibejek-bejek. Ow okay,saya langsung nelen ludah, ngebayangin kalau saya yang makan kayaknya bakal nyanyi ala mbok KD "ku tak sangguuuup... bila akuuuuu" Otomatis dong saya nyeletuk "udah pernah ngicipin masakan buat anaknya mbak?" Lha kok dijawab "nggak pernah mbak,mana enak" lha itu tahu nggak enak kenapa juga dikasih ya? Intinya apa mak? Daritadi kok malah karaokean? Intinya kenapa stunting itu dekat adalah karena eh karena..... coba kita telusuri.... Misalnya, sebagai kaum wanita nih, kan kita calon ibu ya? Sudahkah kita menjaga pola hidup kita dengan baik? Menyiapkan tempat terbaik untuk bakal buah hati kita dengan konsumsi gizi seimbang. Sehingga kapanpun Sang Pencipta berkenan menitipkan amanahNya di rahim kita yang kokoh itu si jabang bayi bisa mendapatkan asupan nutrisi yang baik tanpa harus merasakan namanya spina bifida akibat kekurangan asam folat. Ketika hamil, sudahkah kita bersemangat memberikan nutrisi terbaik untuk dia yang sangat mengandalkan kita sebagai sumber asupannya? Tanpa takut berat badan kita seperti bersenandung naik naik ke puncak gunung. Jangan lupa juga ya edukASI ke lingkungan sekitar kalau memang kita punya keinginan memberikan ASI eksklusif. Ini penting dipelajari dan dilakukan sebelum melahirkan. Udah banyak kok buku yang bahas soal tantangan menyusui dan cara mengatasinya. Jangan anggap remeh dengan berkata "alah mung keri slap slup slap slup ae lho". Giliran udah melahirkan bayinya nangis,ibunya stres karena dikomentari "ora nduwe asi" atau "asimu sitik,bayine ora kenyang" Setelah melahirkan, badan melar terus panik. Komentar bahwa menyusui bakal mengikis lemak lemak yang ada terasa bagai cerita di negeri dongeng. Mana bisa kalau rasanya pengen makan mulu? Akhirnya ada yang memilih untuk menekan nafsu makan padahal laper demi mempercepat penurunan berat badan. Ketika bayi rewel asumsinya lagi growth spurt. Padahal sebulan pun belum genap usianya. Efek lihat jeng kate sama mbak olla langsung singset paska lahiran mungkin ya? Ketika sudah mendekati MPASI rasanya nggak sabar bagai calon manten di akhir masa pingitan. Pengennya buru buru nyuapin. Tapi begitu bayinya emoh buka mulut mamak dilanda panic attack. Beribu cara dicoba agar bayi mau mangap kalau perlu diancem. Padahal ngicipin olahan MPASInya aja nggak mau. Makin besar makin nyerah karena si anak ngotot nggak mau makan sementara kurva terus mengarah ke bawah, ngayem ngayemke hati dengan dalih "tapi anaknya aktif kok nggak sakit" Nah lho, padahal itu titik kritisnya. Beugh ngoceh doang mak, Emang pernah ngerasain? Pernah dong, makanya bisa ngomong... Beberapa sahabat udah hafal banget deh kalau saya udah komentar "jangan pakai matameter ya buibu.... pakailah growth chart... itu bikinnya pakai penelitian lho bukan tepuk tangannya pak tarno" Biasakan pantau perkembangan balita kita dengan growth chart bukan dengan membandingkan pada bayi lain saja. Konsultasikan pada ahlinya jika dirasa ada yang tidak sesuai dengan standar pertumbuhan dan perkembangan. Singkirkan keengganan kena omelan dokter atau dietisien yang memeriksa, karena masa depan buah hati kita lebih penting untuk diperjuangkan. Anggap kalau dokter atau dietisien kasih komen yang nyelekit itu bagian dari rasa terkejut saja. Info mengenai seribu hari pertama kehidupan pernah saya tulis di sini ya : https://m.facebook.com/notes/pramitha-sari/optimalkan-gizi-si-kecil-di-1000-hari-pertama-kehidupannya/10153580234008449/?ref=bookmarks Tetap semangat memberi yang terbaik untuk buah hati tercinta ya buibu... With love, Your dietisien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar