Cari Artikel di Blog Ini
Rabu, 13 Januari 2021
Jurnal Pertama Bunda Cekatan : Telur Hijau
Selasa, 01 Januari 2019
Gimana sih milih diet yang tepat?
Beberapa kali ketemu komentar kayak gini :
"Mbak gimana menurutmu soal pola makan (diet) nya si K L M N O P Q?
"Mbak aku udah nyobain pola makan (diet) S T U V W kok nggak kurus kurus sih, padahal aku cuma cheating sekali sekali lho"
"Aku minum air putih aja jadi daging ih"
Komentar saya biasanya ya : selama ente ngejalanin itu dengan bahagia, paham sama kenapa dia begini begitu, komitmen dan ga bolak balik pengen cheating berarti itu baik buat ente gaes.
Semua manusia itu unik kan ya, kata dosen saya yaitu profesor di ilmu penyakit dalam sih dulu gitu, bahkan kembar identik pun tetap berbeda. Jadi kebutuhan dietnya pun bisa beda beda satu sama lain. Lha kebutuhan energi tiap orang kan sangat dipengaruhi faktor yang berbeda : gender, tinggi, berat, umur. Belum lagi riwayat kesehatan pribadi dan keluarga sama level aktivitas endebre endebre. Jadi kalau cuma ngikutin cara makannya doang ya gimana dong? Apalagi ngikutinnya cuma kalau sempet, kalau lagi ga ada ajakan hang out or kalau ga weekend atau kalau lagi inget. Lha gimana? Sementara si seleb yang diikutin konsisten ngejalaninnya. Karena dia ngejalanin itu mungkin karena dia paham buat apa dia begitu, karena dia punya visi dan misi serta renstra yang jelas dan meyakinkan. Dia pengen ngejalanin itu karena dia mampu mendapatkannya (terjangkau) karena dia paham dan yakin ngejalaninnya dan pastinya karena dia pengen hidup sehat, bukan sekedar pengen kurus. Kalau cuma pengen kurus ntar kalau udah kurus terus udahan gitu gaya hidupnya? Males jaga makan lagi? Males olahraga lagi?
Kalau mau dapet bentuk badan kayak si mbak itu, mas anu, bli entu or jeng ono ya jangan tanggung2 lah diatur makannya bagus, tambah ikutin juga kebiasaan dia olahraga dong dan jangan lupakan gimana dia ngatur pikirannya biar nggak stres, tetep bahagia, nggak suudzonan dan nggak baperan 😘
Sambil macet2 di ujung tahun,
-mithasidietisien-
Selasa, 27 November 2018
Ibu,Jagalah Kesehatanmu untuk Masa Depan Bayimu
Akhir-akhir ini sering dapet kisah tentang (lagi-lagi) bayi-bayi yang GTM. Tapi kali ini ada yg menarik…
Ibunya ternyata status gizinya juga kurang. Emang ada hubungannya? Mari kita cek, dimulai dengan perjalanan janin di dalam kandungan dulu...
Status gizi ibu ketika terjadi pembuahan berpengaruh terhadap status gizi janin.
Ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis harus membagi asupan kalorinya untuk :
1. Mengatasi kebutuhannya sendiri
2. Membagi asupannya dengan janin, sebagai kompensasinya asupan ke janin akan berkurang karena terambil untuk kebutuhan dasar ibunya.
Oleh karena itu ibu yang mengalami kekurangan nutrisi akan mengakibatkan :
1. Kerusakan otak dan sumsum tulang belakang bayi
2. Berat badan lahir rendah
Kebutuhan energi ibu sampai melahirkan adalah 80.000 kkal dan pada trimester tiga energi akan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.
Protein yang dibutuhkan hingga melahirkan sebesar 925 gram yang sebagian besar sebaiknya dicukupi melalui protein hewani karena nilai biologisnya yang tinggi sehingga mudah diserap tubuh.
Zat besi dibutuhkan sebanyak 30 mg per hari
Asam folat adalah vitamin yang kebutuhannya pada masa kehamilan meningkat 2x lipat. Kekurangan asam folat menyebabkan _restless leg syndrome_ jika defisiensi berlangsung lama dapat menyebabkan anemia, berat badan lahir rendah, ablasio plasenta dan neural tube defect. Kebutuhannya hanya 0,4 mg per hari.
Kekurangan vitamin B12 menyebabkan ibu hamil mudah lelah, sumber utamanya dari lauk hewani.
Defisiensi vitamin D menyebabkan gangguan metabolisme pada ibu dan janin
Defisiensi yodium ketika hamil dapat menyebabkan hipotiroidisme dan akibatnya anak bisa mengalami kretinisme.
Ketika berlanjut ke fase menyusui :
Untuk menghasilkan 100 cc ASI dibutuhkan energi sebesar 80-90 kkal.
Rata-rata ibu dengan status gizi baik akan menghasilkan 700-800 cc ASI per hari, namun jika status gizinya kurang akan menghasilkan 500-600 cc saja.
Namun seringkali ada faktor penyebab terhambatnya pengeluaran ASI : kurang percaya diri dan kurangnya ilmu tentang menyusui sehingga ketika lingkungan kurang memahami tentang ilmu menyusui ibunya ikut terbawa suasana maupun merasa tertekan karena komentar dari lingkungan.
Kemudian seringkali ketika bayi mengalami masalah ibu bertanya “apa ASI saya jelek kualitasnya? Apa ASI saya nggak enak?”
Sementara mereka nggak mengevaluasi bagaimana asupan terhadap dirinya sendiri. Sibuk memikirkan kecukupan bayi tanpa menghiraukan bagaimana asupan sumbernya. Padahal ASI selalu mengambil yang terbaik yang ada pada diri ibunya. ASI diambil dari yg terbaik dari yg dimiliki ibunya. Kalau ibunya kurang gizi ya pokoknya diambil apa yg bisa diambil. Kalau makannya kurang kalsium ya kalsium gigi sama tulang ibunya yang digerogotin, Tinggal badan ibunya aja nanti yang semakin rapuh. Kalau ibunya makanannya nggak bervariasi, kurang vitamin dan mineral, ya badan anaknya akan menyesuaikan. Menyesuaikan dengan kekurangan, lama2 badannya ga bertambah tinggi sesuai usianya, berat badan nggak mencukupi kebutuhannya kemudian lama2 akan kelihatan lebih pendek dari teman2nya dan akhirnya stunting.
Beranjak besar memasuki MPASI drama berubah menjadi anak semakin aktif tapi ada yang mengalami ogah makan karena berbagai faktor akhirnya berat badan tidak naik atau karena imunitas rendah jadi sakit-sakitan, tambah nggak mau makan. Kalori yang masuk kurang, kalori yang keluar besar. Akhirnya defisit kalori.
Seharusnya kalau anaknya aktif ➡ anak makin mudah lapar ➡ makin banyak kalori yg masuk ➡ BB naik sesuai standar kenaikan berat minimal.
Ketika BB turun dan anak semakin aktif kalau saya mending curiga makannya kurang daripada anaknya malah jd gagal tumbuh karena berlindung di balik "habis anaknya aktif sih". Kalau sampai turun artinya kalori yg keluar lebih banyak daripada yg masuk dalam jangka waktu yg lama.
Bisa baca juga tulisan tentang stunting di sini :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155929800632875&id=682257874
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155934365082875&id=682257874
Seribu hari pertama kehidupan :
https://m.facebook.com/notes/pramitha-sari/optimalkan-gizi-si-kecil-di-1000-hari-pertama-kehidupannya/10153580234008449/?__tn__=H-R
Love,
Your Dietisien
Selasa, 06 November 2018
Bersahabat dengan growth chart yuk
📐 Untuk penimbangan berat badan, beberapa hal ini yang perlu diperhatikan :
1. Gunakanlah timbangan yang sama dalam setiap kali penimbangan.
2. Pastikan timbangan yang digunakan terkalibrasi dengan baik. 3. Pastikan popok bayi bersih (karena popok yang penuh akan menambah secara signifikan berat badan , terutama untuk bayi kecil).
4. Bayi mengenakan baju yang tipis/telanjang bila memungkinkan, selama penimbangan
Sementara untuk pengukuran panjang/tinggi badan, pastikan badan bayi lurus terutama kaki, saat diukur dalam posisi tidur, serta bayi telanjang kaki/ tidak memakai sepatu dll.
📐Walaupun growth chart adalah alat ukur yang penting, alangkah baiknya jika dokter & orangtua tidak hanya fokus pada angka-angka dalam grafik. Dan perlu diingat juga bahwa menilai pertumbuhan bayi tidak bisa dilihat dari kondisi satu waktu atau dari penampakan
bayi saja.
Jadi, gunakan Growth Chart sebagai alat untuk menilai POLA atau TREND pertumbuhan anak, bukan dilihat angka per angka saja.
Grafik pertumbuhan akan sangat bermanfaat jika dilihat sebagai pola pertumbuhan anak dibandingkan dengan melihat angka per angka.
📐 Oh ya, selain paper-based (ditulis di kertas grafik), plotting ini bisa juga dengan menggunakan aplikasi PrimaKu atau WHO Anthro.
Lebih mudah dengan aplikasi PrimaKu yang bisa didownload gratis dari Playstore.
📐 Samakah growth chart WHO ini dengan grafik yang sering ada di KMS (kartu menuju sehat, biasa dibagikan di posyandu-posyandu atau oleh bidan) maupun buku KIA (kesehatan ibu dan anak, biasanya diperoleh dari dokter atau rumah sakit)?
Secara garis besar sama, tetapi yang perlu diperhatikan adalah sekarang masih banyak beredar KMS versi lama yang didasarkan pada growth chart WHO versi terdahulu.
Kenapa sih growth chart aja dibahas? Ya daripada capek mikirin apa komentar orang soal penampakan fisik anak, kan lebih baik menenangkan hati karena tahu dengan pasti apakah tumbuh kembang si anak berjalan dengan semestinya atau tidak? So, keep your eyes on growth chart, Mommies!
Referensi
📖 Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Dasar, Departemen Kesehatan RI, 2005
📖 Fikawati,Sandra,dkk. Gizi Anak dan Remaja. Depok : Rajawali Press. 2017
🖥http://cdc.gov/growthcharts/
🖥 http://www.who.int/childgrowth/en
🖥 Understanding the growth percentile yang diterjemahkan secara bebas oleh Luluk L. Soraya
🖥 http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pemantauan-pertumbuhan-anak
🖥 http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
🖥 http://www.who.int/childgrowth/software/en/
🖥 https://theurbanmama.com/articles/growth-chart.html
🖥 http://doctormums.com/mengenal-kurva-who-sebagai-acuan-pertumbuhan-anak/
🖥 https://fatriatmokohs.com/growth-chart-dan-cdc/
🖥 http://www.who.int/childgrowth/standards/en/
🖥 https://www.cdc.gov/growthcharts/who_charts.htm
🖥 http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/MASTER%20BUKU%20KIA%20REVISI%20TH%202016%20(18%20MAR%2016).pdf
Senin, 23 Juli 2018
Yuk baca growth chart
Aku anak sehat
Tubuhku kuat
Karena ibuku
Rajin dan cermat
Semasa aku bayi
Selalu di beri asi
Makanan bergizi
Dan imunisasi
Berat badanku ditimbang selalu
Pos Yandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare
Ibu selalu waspada
Pertolongan oralit
Selalu siap sedia
Siapa yang hafal lagu itu?
Iyes, kita sepantaran berarti ya?
Hai buibu keren, saya datang lagi... kali ini saya mau ngenalin kawan akrab dalam kehidupan makemak sehari hari... ini andelan komentar saya kalau ada makemak yang pakai matameter. Apa hayo?
Yak betul sekali, saya mau ngenalin kawan akrab saya yang namanya KURVA PERTUMBUHAN alias dalam bahasa jawanya GROWTH CHART.
Inilah senjata pamungkas mamak mamak kalau udah mulai dapet suara suara ghaib
"kok anaknya kurus sih?"
"Anaknya ga dikasih makan ya?"
"Kok anakmu kecil sih, coba deh lihat tuh anaknya si fulan lemu ginuk ginuk"
Haihai para komentator handal, situ lihat pakai matameter apa situ punya bakat melihat tembus pandang sih?
Buat buibu, yang luar biasa sabar dan syukurnya, hempaskan saja komentar2 bernada demikian kalau anakmu ternyata berada di area aman kurva pertumbuhan. Nggak usah dibawa mangkel berlebihan, ndak nanti sayurnya jadi nano nano rasanya karena ibuke mangkel trus salah masukin cuka ke sayur sop yang lagi dimasak.
Yuk berkawan akrab sama si growth chart ini, supaya kita jadi ibu rajin dan cermat, bisa melawan stunting dari mulai rumah kita sendiri. Saat ini, 1 dari 3 anak Indonesia terdeteksi mengalami stunting lho buibu. Ini ancaman besar!
So, jangan sepelekan memantau tumbuh kembang anak2 kita melalui aparatus pertumbuhan dan perkembangannya.
Ada yang belum punya kurva beginian? Edodoe....
Ini GERATIS lho padahal....
Apalagi di buku pink yang terbitan tahun 2016.. komplit plit plit...
Sebenernya, ada banyak versi kurva pertumbuhan, yang paling dekat sama kita ya Kartu Menuju Sehat dari kementerian kesehatan.
Atau kalau mau cari yang lengkap, simple dan daring bisa download di :
http://www.who.int/childgrowth/standards/en/
Mau lihat panjang/tinggi badan, berat badan, lingkar kepala... ada... jangan lupa teliti lihat usia dan jenis kelaminnya...
Mau yang tinggal download aplikasi, masukin data nat nit nut... ada juga....
Mbak..saya udah punya kurvanya nih tapi saya nggak ngerti. Ini garis garis, angkanya ini apa maksudnya sih?
Jadi gini buibu, kalau pakai kurva pertumbuhan WHO biasanya kita disuguhi kurva dengan 5 sampai 7 garis dengan angka 0, (plus dan minus) 1 sampai 3. Sedangkan di KMS kita familiar dengan garis hijau tua, hijau muda serta kuning, dimana batas atas dan bawahnya ditandai dengan warna merah.
Apa maksudnya?
Saya salin dari buku Gizi Anak dan Remaja bab Gizi, Pertumbuhan dan Perkembangan :
Garis yang diberi tanda 0 merupakan nilai tengah yang merupakan rata rata, sedangkan garis lainnya dengan angka dan tanda plus minus merupakan z-score (sebut saja batas penyimpangan). Makin jauh garisnya dari garis tengah menunjukkan level masalah pertumbuhan anak.
Pada kurva tinggi badan, area diantara garis 2 sampai -2 garis z-score menunjukkan panjang/tinggi badan anak dalam status normal,jika dibawah -2 maka anak masuk kategori stunting dan jika dibawah -3 maka masuk kategori severe stunting. Jika diatas 2 anak masuk kategori tinggi, jika diatas 3 maka masuk kategori sangat tinggi. Tinggi badan dibanding usia merupakan indikator untuk status gizi sejak masa lampau, jika mengalami kurang gizi dalam waktu lama (kronis) maka akan tampak dari kurva ini.
Sedangkan pada kurva berat badan dibanding tinggi badan, jika berada di bawah garis -2 anak masuk kategori kurus dan jika di bawah garis -3 maka masuk kategori sangat kurus. Sebaliknya jika diatas garis 2 maka masuk kategori overweight dan di atas 3 masuk kategori obesitas. Sedikit berbeda dengan kurva berat badan dibanding umur, kategorinya mulai dari bawah : gizi buruk (di bawah -3), gizi kurang (di bawah -2), gizi baik (antara -2 sampai 2) serta gizi lebih (di atas 2)
Fiuuuuh, panjang ya?
Semoga ga jera membacanya...
Dietisiennya mau ngisi kalori dulu biar masuk kategori gizi baik...
With love,
Your Dietisien.
Referensi : Fikawati,Sandra,dkk. Gizi Anak dan Remaja. Depok : Rajawali Press. 2017.

